Jumat, 27 Maret 2009

Kualitas Soal UAN Matematika SMA


PEMERINTAH, meski mendapat banyak kritik, tetap akan menyelenggarakan Ujian Nasional 2009 dengan kriteria kelulusan yang sedikit berbeda dengan tahun 2008. Pada tahun lalu, siswa SMA dan sederajat dinyatakan lulus jika memiliki nilai rata–rata minimal 5,25, dengan boleh ada satu mata ujian dengan nilai minimal 4,00, asalkan mata ujian yang lain memperoleh nilai minimal 6,00.
Pada tahun ini, berdasarkan Permendiknas No 77 tahun 2008 tentang Ujian Nasional SMA/ MA tahun 2008–2009 pasal 14, disebutkan bahwa peserta Ujian Nasional dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan dengan nilai rata–rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajatam yang diujikan, dan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Pemerintah juga menambah hari ujian dari tiga hari menjadi lima hari.
Kritikus yang menggugat penyelenggaraan Ujian Nasional selama ini lebih banyak menyoroti kegiatan ujian hanya semata mengevaluasi aspek kognitif, sementara segi afektif dan psikomotor tidak terdeteksi pada hasil Ujian Nasional. Demikian juga diabaikannya makna proses belajar selama ini. Hampir tidak ada yang menyoroti kualitas soal Ujian Nasional itu sendiri.
Mencermati soal Ujian Nasional tahun 2007, Pemerintah mulai membuat paket soal deng-an dua kode (A dan B) sehingga soal–soal pada kedua kode tersebut tidak memiliki indikator yang sama dan bobotnya pun berbeda. Sebagai contoh pada soal matematika dengan kisi–kisi menentukan persamaan garis singgung suatu lingkaran. Soal pada kode A memiliki indikator menentukan persamaan garis singgung lingkaran melalui titik pada lingkaran, namun soal pada kode B berindikator menentukan persamaan garis singgung lingkaran jika diketahui gradient garis singgungnya.
Kemudian pada Ujian Nasional tahun 2008, soal pada kode A dan B dibuat sama, hanya berbeda pada letak nomornya. Inipun jika dilihat dari struktur kisi – kisi penulisan soal, maka siswa tidak mendapatkan keadil-an, karena pada nomor soal yang sama, mereka mengerjakan soal dengan kisi–kisi yang berbeda.
Bagaimana seandainya soal Ujian Nasional ini salah? Apakah akan menjadi bonus nilai untuk siswa? Ini juga tidak ada ke-jelasaan. Hal ini pernah penulis tanyakan kepada pengawas yang kebetulan melakukan monitoring saat kegiatan ujian berlangsung. Menurut Beliau, soal ujian nasio-nal tidak mungkin salah, karena disusun oleh tim pilihan.
Benarkah demikian? Mari kita lihat soal Ujian Nasional tahun 2008 paket 14 no 8 jurusan ilmu sosial tentang tampilan grafik yang tidak sesuai soal. Penggunaan grafik mestinya mendukung soal, tidak digunakan sebagai pengecoh, karena option-lah yang bertugas sebagai pengecoh. Demikian pula soal no 17. Tidak ada identifikasi mengenai variabel sehingga soal dapat memiliki banyak jawaban. Padahal ciri pembelajaran matematika adalah mengajarkan anak untuk berpikir logis dan terstruktur, melakukan identifikasi informasi sebelum memecahkan suatu masalah.

Mulai tahun 2008, jumlah soal ujian nasional bertambah, dari 30 butir menjadi 40 dengan alokasi waktu tetap 120 menit. Oleh sebab itu, tingkat kesulitan soal mestinya dikurangi. Se-bagai contoh soal tentang sistem persamaan linier dengan tiga variabel. Kompetensi ini mudah tetapi memerlukan waktu panjang untuk menyelesaiannya, Akibatnya indikator tidak tercapai bukan karena siswa tidak mampu mengerjakannya, tetapi seringkali karena siswa malas mengerjakannya. Sebagai solusinya, sesuai sediaan waktu, maka soal cukup menanyakan nilai salah satu variabel saja.
Salah satu upaya penghematan waktu adalah soal didukung angka yang mudah dihitung secara manual. Karena prinsip evaluasi pada suatu ujian adalah mengetahui seberapa jauh kompetensi yang diharapkan mampu dikuasai siswa, bukan seberapa jauh siswa pandai berhitung, karena untuk tugas itu telah ada alat bantu hitung yang canggih. Bukankah juga siswa dilarang menggunakan alat bantu hitung?
Analisis hasil penguasaan materi soal matematika Ujian Nasional 2008 menunjukkan, soal-soal yang berada pada nomor akhir memiliki persentase daya serap rendah. Hal ini diduga bukan karena siswa tidak mampu mengerjakan soal tersebut, namun karena mereka kekurangan waktu.

Keinginan Pemerintah untuk secara bertahap menaikkan batas minimal kelulusan perlu mendapat apresiasi. Namun demikian Pemerintah juga harus berupaya agar soal Ujian Nasio-nal memang benar–benar mampu untuk mengukur kompetensi siswa, dalam arti sesuai dengan target kompetensi, yang menurut Drs. Safari MA dari Balitbang Diknas harus berdasarkan prinsip urgensi, kontinuitas, relevansi dan keterpakaian. Sehingga tidak ada lagi siswa takut menghadapi Ujian Nasional serta menganggapnya sebagai pedang yang memutus harapan masa depan, namun mengganggap Ujian Nasional sebagai sarana mengukur kemampuan dan refleksi diri.
Apalagi hasil Ujian Nasional tahun ini, sesuai Permendiknas nomor 77 tahun 2008 pasal 3(b) akan menjadi salah satu pertimbangan untuk dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. Semoga soal matematika Ujian Nasional tahun 2009 benar–benar disusun secara cermat agar tidak memberikan kerugian kepada siswa.


badai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar